Senin, 14 Mei 2012

L-U-M-B-U-N-G . . .


Asal Nulis dan Nulis Asal Asalan seri 2

-Lumbung-

Amaq Jereh sekolah saja tidak tinggi tapi usilnya bukan main, otaknya penuh pertanyaan. Seperti biasa kalau malam selesai shalat isya’ dia pasti duduk di bawah lumbung yang di Lomboq masyarakat ada yang menamakan Geleng, Panteq, Alang atau Sambi, pertanyaan pertama yang muncul di benaknya adalah apa sebenarnya maksud para arsitek tradisionil membuat Lumbung karena sepengetahuan Amaq Jereh dalam berkarya para Arsitek tradisionil selalu berangkat dari apa yang menjadi kebutuhan masyarakat (fungsi mempengaruhi bentuk) berbeda dengan para arstiek modern yang dalam berkarya selalu berangkat dari “pesanan Proyek” (bentuk mempengaruhi Fungsi)

Sementara hari ini yang namanya Lumbung hanya jadi hiasan pintu gerbang atau gapura, untuk villa bahkan ada yang memakai namanya untuk lembaga keuangan sebagai pengganti lembaga keuangan yang pernah ada, maka untuk menjawab kegelisahan hatinya maka sejak tahun 1999 Amaq Jereh mulai mengembara ke Desa Desa untuk bertanya pada para orang tua apa sebenarnya kandungan yang ada di Lumbung.

Awalnya memang sangat sederhana yaitu berangkat dari adanya kebutuhan akan pangan menjadikan masyarakat membutuhkan tempat untuk menyimpannya maka oleh para arsitek tradisionil didisainlah bangunan yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan yang tentu saja tidak terlepas dari awig awig, adat dan budaya yang hidup di masyarakat. Lahirlah Lumbung (Alang, Sambi, Panteq, Geleng) yang disamping berfungsi sebagai “tempat menyimpan” bahan makanan (tersurat) juga memiliki fungsi yang tersirat antara lain : 
1.    Ekonomi
a. Difinisi Miskin “ala” Lumbung adalah : Jika Inan Pare/Boyok/Benih sampai terjual sebelum musim panen berikutnya maka “ dikatakan sebagai miskin.
b.   Sistem menyimpan :
Tahunan (Alang/Geleng/Panteq/Sambi) dalam pengam- lan tidak bisa seenaknya, ada   aturan atau awig-awig yang harus diikuti.
Bulanan (Monjeng kalau untuk daerah Lomboq Utara) bisa diambil kapan saja.
Harian (Kemerasan) dalam bentuk beras yang biasanya diletakkan di dapur dan diambil tiap hari untuk dimasak.      
c.  Awig Awig  : Setiap Lumbung memiliki aturan yang sudah menjadi ketetapan adapt dalam memfungsikannya.
d. Penanggung Jawab : Secara aturan maka yang bertanggung jawab atas Lumbung adalah “perempuan” maka untuk bisa mengeluarkan dan memasukkan bahan makanan kedalam lumbung harus ada persetujuan perempuan, demikian juga laki laki sangat dipantang- kan bisa memasukki Lumbung tanpa sepengetahuan perempuan.
2.    Kesehatan :
  1. Penyimpanan di Lumbung tahunan juga sudah ada aturannya, untuk benih hanya bisa disimpan sampai dua tahun sedang selebihnya hanya dapat menjadi konsumsi
  2. Lama penyimpanan ada yang sampai 20 tahun (data beras Merah di Sembalun) masih layak di konsumsi
  3. Bahan makanan yang bisa disimpan sampai tahunan menunjukkan bahwa makanan tersebut “sehat” karena untuk jenis padi yang sekarang hanya bisa disimpan antaar 4 sampai 6 bulan saja dimana lebih dari itu padi sudah berubah warna dan tidak bisa dikonsumsi.
3.    Teknologi :
a.    Bahan makanan yang bisa tersimpan sampai tahunan membuktikan bahwa para nenek moyang telah memiliki cara menanam yang baik.
b.    Cara menanam sangat menghormati alam dengan aturan aturan yang jelas (sekarang dikenalkan kembali dengan system tanam Organik)
4.    Lingkungan :
a.    Ada aturan yang jelas dalam penanaman yang sangat menghormati alam
b. Teknologi (cara tanam) yang sarat dengan aturan adat sudah barang tentu akan melahirkan lingkungan yang baik
5.    Pendidikan :
a.    Tidak ada seorang petanipun yang “pelit” dalam berbagi pengalaman
b.   Setiap ada temuan selalu dibagi dengan petani yang lain sehinga secara tidak langsung ada system belajar bersama yang didasarkan atas pengalaman lapangan

Amaq Jereh kembali merenung sebagian kecil tentang pertanyaan yang
menggumpal didadanya mulai terurai dan kekuatan Lumbung bisa dirasakan sebagai kekuatan masyarakat untuk berdaulat. Pikiran Amaq jereh semakin kemana mana, untuk bisa perang menang perang juga tetap dibutuhkan gudang makanan (lumbung) selain Gudang Senjata, betapa murahnya kalau Lumbung hari ini hanya dijadikan Gapura atau symbol lembaga ekonomi saja. Sebenarnya Lumbung tidak hanya untuk menyimpan makan tapi hutanpun juga dapat diartikan sebagai Lumbung (tempat menyimpan air atau oksigen)

            Dalam benaknya yang usil Amaq Jereh juga mulai mengingat apa yang dia dapatkan dari para orang orang tua di Desa bahwa bangunan lumbung secara fisik juga memiliki nama seperti Cendiq (pondasi), Sampak\q, Jahit, Lasah. Teken, Jelepeng dll. Dimana setiap fungsi punya nama berbeda dan dalam pembuatannya tidak “terikat secara mati” cukup dengan cara yang orang dahulu menamankannya dengan Tapaq dara dan Kalimeter, secara artsitektonis sebenarnya ada satu hal yang menjadikan lumbung mampu berdidi kokoh, tahan gempa dan mampu menyelesaikan masalah penyimpanan Padi sampai 5 Ton sekalipun, sebuah system pengorganisasian komponen bangunan yang kokoh dimana jika dikembalikan dalam konsep arsitektur tradisionil maka Kokohnya bangunan dan ciri khas yang ada akan selalu ,menjadi cermin dari kehidupan masyarakat itu sendiri.

Kembali Amaq Jereh mulai usil dan dia membayangkan di masyarakat banyak ahli seperti pertanian, peternakan, pengusahan penguasa, ahli kesehatan dan banyak lagi tetapi mengapa dalam pengorganisasian tidak  seperti Lumbung yang mampu menyimpan bahan makanan sampai 5 ton (menjawab permasalahan kebutuhan pangan), tahan gempa (Ketahanan). Jawaban sementara adalah tidak adanya “keseimbangan dan system pengorganisasian”

Sambil tetap berburu “ilmu tua” amaq Jereh mulai mengembangkan system gerakan lumbung menjadi Gerakan Ekonomi, Gerakan Kesehatan, Gerakan teknologi, Gerakan Lingkungan dan Gerakan Pendidikan dengan pemikiran sederhana Ilmu Tua + Ilmu Hari Ini = Ilmu Masa Depan. Salah satu yang sedang dicobakan dalam Ekonomi ala Lumbung adalah BEWET + Ekonomi/Agama = SI MENIK, tujuannya adalah mengajak orang MEnsyukuri NIKmat, sasarannya Munumbuhkan kembali Akhlaq Sabar dan Ikhlas (ASI) dan caranya cukup dengan rajin Silaturahim. Amaq Jereh kelelahan berfikir dan mulai tertidur di bawah Geleng (Lumbung) dan dalam mimpinya dia bertekad untuk mengikuti ilmunya teman teman Lumbung yaitu BMG (bau/bisa, Mele/mau dan Gaweq/Lakukan) karena yang namanya masyarakat selalu menuntut dan berprinsip “Pelisaq Baon Batu Ndeq ku Gitaq ndeq ku sadu’” (Tidak saya lihat, ya tidak saya percaya), semoga Allah Ridha’, amin !



Mataram, 14 Mei 2010
Amaq Jereh
Masyarakat Lumbung NTB


2 komentar:

  1. Wow...di butuhkan lebih banyak lagi amaq jereh yang lain....terakhir lihat lumbung dulu, pas SD, sekarang udah ilang di kampungku....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya tiap hari liat lumbung yg udah alih fungsi... :D
      yaah mudah2an semakin bnyak amaq jereh d muka bumi inii... hahaa

      Hapus