Asal Nulis dan Nulis Asal Asalan seri
2
Amaq Jereh sekolah saja tidak tinggi
tapi usilnya bukan main, otaknya penuh pertanyaan. Seperti biasa kalau malam
selesai shalat isya’ dia pasti duduk di bawah lumbung yang di Lomboq masyarakat
ada yang menamakan Geleng, Panteq, Alang atau Sambi, pertanyaan pertama yang
muncul di benaknya adalah apa sebenarnya maksud para arsitek tradisionil
membuat Lumbung karena sepengetahuan Amaq Jereh dalam berkarya para Arsitek
tradisionil selalu berangkat dari apa yang menjadi kebutuhan masyarakat (fungsi
mempengaruhi bentuk) berbeda dengan para arstiek modern yang dalam berkarya
selalu berangkat dari “pesanan Proyek” (bentuk mempengaruhi Fungsi)
Sementara hari ini yang namanya
Lumbung hanya jadi hiasan pintu gerbang atau gapura, untuk villa bahkan ada
yang memakai namanya untuk lembaga keuangan sebagai pengganti lembaga keuangan
yang pernah ada, maka untuk menjawab kegelisahan hatinya maka sejak tahun 1999
Amaq Jereh mulai mengembara ke Desa Desa untuk bertanya pada para orang tua apa
sebenarnya kandungan yang ada di Lumbung.
Awalnya memang sangat sederhana yaitu
berangkat dari adanya kebutuhan akan pangan menjadikan masyarakat membutuhkan
tempat untuk menyimpannya maka oleh para arsitek tradisionil didisainlah bangunan
yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan yang tentu saja tidak terlepas
dari awig awig, adat dan budaya yang hidup di masyarakat. Lahirlah Lumbung
(Alang, Sambi, Panteq, Geleng) yang disamping berfungsi sebagai “tempat
menyimpan” bahan makanan (tersurat) juga memiliki fungsi yang tersirat antara
lain :
1.
Ekonomi
a. Difinisi Miskin “ala” Lumbung adalah :
Jika Inan Pare/Boyok/Benih sampai terjual sebelum musim panen berikutnya maka “
dikatakan sebagai miskin.
b. Sistem menyimpan :
Tahunan (Alang/Geleng/Panteq/Sambi) dalam pengam- lan tidak bisa seenaknya, ada aturan atau awig-awig yang harus diikuti.
Bulanan (Monjeng kalau untuk daerah Lomboq Utara) bisa diambil kapan saja.
Harian (Kemerasan) dalam bentuk beras yang biasanya diletakkan di dapur dan diambil tiap hari untuk dimasak.
Tahunan (Alang/Geleng/Panteq/Sambi) dalam pengam- lan tidak bisa seenaknya, ada aturan atau awig-awig yang harus diikuti.
Bulanan (Monjeng kalau untuk daerah Lomboq Utara) bisa diambil kapan saja.
Harian (Kemerasan) dalam bentuk beras yang biasanya diletakkan di dapur dan diambil tiap hari untuk dimasak.
c. Awig Awig : Setiap Lumbung memiliki aturan yang sudah
menjadi ketetapan adapt dalam memfungsikannya.
d. Penanggung Jawab : Secara aturan maka
yang bertanggung jawab atas Lumbung adalah “perempuan” maka untuk bisa
mengeluarkan dan memasukkan bahan makanan kedalam lumbung harus ada persetujuan
perempuan, demikian juga laki laki sangat dipantang- kan bisa memasukki Lumbung
tanpa sepengetahuan perempuan.
2.
Kesehatan
:
- Penyimpanan
di Lumbung tahunan juga sudah ada aturannya, untuk benih hanya bisa
disimpan sampai dua tahun sedang selebihnya hanya dapat menjadi konsumsi
- Lama
penyimpanan ada yang sampai 20 tahun (data beras Merah di Sembalun) masih
layak di konsumsi
- Bahan
makanan yang bisa disimpan sampai tahunan menunjukkan bahwa makanan tersebut
“sehat” karena untuk jenis padi yang sekarang hanya bisa disimpan antaar 4
sampai 6 bulan saja dimana lebih dari itu padi sudah berubah warna dan
tidak bisa dikonsumsi.
3.
Teknologi
:
a. Bahan makanan yang bisa tersimpan
sampai tahunan membuktikan bahwa para nenek moyang telah memiliki cara menanam
yang baik.
b. Cara menanam sangat menghormati alam
dengan aturan aturan yang jelas (sekarang dikenalkan kembali dengan system
tanam Organik)
4.
Lingkungan
:
a. Ada aturan yang jelas dalam penanaman
yang sangat menghormati alam
b. Teknologi (cara tanam) yang sarat
dengan aturan adat sudah barang tentu akan melahirkan lingkungan yang baik
5.
Pendidikan
:
a. Tidak ada seorang petanipun yang
“pelit” dalam berbagi pengalaman
b. Setiap ada temuan selalu dibagi dengan
petani yang lain sehinga secara tidak langsung ada system belajar bersama yang
didasarkan atas pengalaman lapangan
Amaq Jereh kembali merenung sebagian
kecil tentang pertanyaan yang
menggumpal
didadanya mulai terurai dan kekuatan Lumbung bisa dirasakan sebagai kekuatan
masyarakat untuk berdaulat. Pikiran Amaq jereh semakin kemana mana, untuk bisa
perang menang perang juga tetap dibutuhkan gudang makanan (lumbung) selain
Gudang Senjata, betapa murahnya kalau Lumbung hari ini hanya dijadikan Gapura
atau symbol lembaga ekonomi saja. Sebenarnya Lumbung tidak hanya untuk
menyimpan makan tapi hutanpun juga dapat diartikan sebagai Lumbung (tempat
menyimpan air atau oksigen)
Dalam benaknya yang usil Amaq Jereh
juga mulai mengingat apa yang dia dapatkan dari para orang orang tua di Desa bahwa
bangunan lumbung secara fisik juga memiliki nama seperti Cendiq (pondasi),
Sampak\q, Jahit, Lasah. Teken, Jelepeng dll. Dimana setiap fungsi punya nama
berbeda dan dalam pembuatannya tidak “terikat secara mati” cukup dengan cara
yang orang dahulu menamankannya dengan Tapaq dara dan Kalimeter, secara
artsitektonis sebenarnya ada satu hal yang menjadikan lumbung mampu berdidi
kokoh, tahan gempa dan mampu menyelesaikan masalah penyimpanan Padi sampai 5
Ton sekalipun, sebuah system pengorganisasian komponen bangunan yang kokoh
dimana jika dikembalikan dalam konsep arsitektur tradisionil maka Kokohnya
bangunan dan ciri khas yang ada akan selalu ,menjadi cermin dari kehidupan
masyarakat itu sendiri.
Kembali Amaq Jereh mulai usil dan dia
membayangkan di masyarakat banyak ahli seperti pertanian, peternakan,
pengusahan penguasa, ahli kesehatan dan banyak lagi tetapi mengapa dalam
pengorganisasian tidak seperti Lumbung
yang mampu menyimpan bahan makanan sampai 5 ton (menjawab permasalahan
kebutuhan pangan), tahan gempa (Ketahanan). Jawaban sementara adalah tidak
adanya “keseimbangan dan system pengorganisasian”
Sambil tetap berburu “ilmu tua” amaq
Jereh mulai mengembangkan system gerakan lumbung menjadi Gerakan Ekonomi,
Gerakan Kesehatan, Gerakan teknologi, Gerakan Lingkungan dan Gerakan Pendidikan
dengan pemikiran sederhana Ilmu Tua + Ilmu Hari Ini = Ilmu Masa Depan. Salah
satu yang sedang dicobakan dalam Ekonomi ala Lumbung adalah BEWET +
Ekonomi/Agama = SI MENIK, tujuannya adalah mengajak orang MEnsyukuri NIKmat,
sasarannya Munumbuhkan kembali Akhlaq Sabar dan Ikhlas (ASI) dan caranya cukup
dengan rajin Silaturahim. Amaq Jereh kelelahan berfikir dan mulai tertidur di
bawah Geleng (Lumbung) dan dalam mimpinya dia bertekad untuk mengikuti ilmunya
teman teman Lumbung yaitu BMG (bau/bisa, Mele/mau dan Gaweq/Lakukan) karena
yang namanya masyarakat selalu menuntut dan berprinsip “Pelisaq Baon Batu Ndeq
ku Gitaq ndeq ku sadu’” (Tidak saya lihat, ya tidak saya percaya), semoga Allah
Ridha’, amin !
Mataram, 14 Mei 2010
Amaq Jereh
Masyarakat Lumbung NTB